Royalties I 

Bron: Wikipedia.nl

Pendahuluan: Nama lama untuk Sumatra adalah "Swarna Dwipa" (bahasa Sansekerta untuk "Pulau Emas"), mungkin karena ekspor emas yang sangat awal dari tambang di dataran tinggi Sumatra. Karena lokasinya di rute perdagangan India-Cina, berbagai kota perdagangan diciptakan, terutama di pantai timur. Ini juga membawa pengaruh dari agama-agama India ke Sumatra. Contoh paling terkenal adalah Sriwijaya, monarki Budha dengan Palembang saat ini sebagai pusatnya. Melalui perdagangan dan penaklukan, kerajaan ini mendominasi wilayah tersebut pada abad ke 7 - 9 dan mempromosikan penyebaran budaya Melayu di Sumatra, Semenanjung Melayu dan Kalimantan Barat (Kalimantan). Namun, pengaruh kerajaan tidak meluas lebih jauh dari wilayah pesisir. Pengaruh kerajaan Sriwijaya menurun pada abad ke-11. Pulau itu berulang kali diserang dari Jawa, oleh kerajaan Jawa: Singasari pertama dan kemudian Majapahit. Islam juga muncul selama periode ini, yang menyebar melalui kontak dengan pedagang Arab dan India. Pada akhir abad ke-13 penguasa kerajaan Samudra (sekarang Aceh, provinsi utara Sumatera, dalam ejaan bahasa Indonesia "Aceh") masuk Islam. Nama "Samudra" diucapkan oleh Ibn Battuta sebagai "Sumatra", maka nama pulau itu. Samudra digantikan oleh Kesultanan Aceh yang perkasa. Dengan kedatangan Belanda, banyak kepala sekolah Sumatera secara bertahap ditempatkan di bawah kekuasaan Belanda. Aceh adalah kendala utama, mengingat perang Aceh yang panjang dan mahal (1870-1905). Aceh menjadi sasaran kekuasaan Belanda pada awal abad kedua puluh. Kampanye militer dilakukan sampai tahun 1914 dan setelah itu tetap gelisah di Aceh. Sumatra menjadi bagian dari Republik Indonesia pada tahun 1945/1949. Akan tetapi, kaum nasionalis Aceh tidak mengakui kedaulatan Jakarta. Sumbu menjadi tong bubuk ketika Presiden Sukarno memutuskan pada tahun 1953 untuk menggabungkan Aceh secara administratif dengan Sumatera Utara. Sebuah pemberontakan menyebabkan perang gerilya, yang berlangsung sampai Aceh mendapatkan kembali status khususnya pada tahun 1959. Sumatra, dan terutama Aceh, dilanda sangat parah oleh tsunami 26 Desember 2004. Gempa bumi baru (19 November 2005, 5 Maret 2010, dan 11 Januari 2012) memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius.

1. West Lampung Recency.

* 2th BC century, - King Raja Buay.

* 3th and 4th century, Hindu Kingdom.

* 4th and 5th century, First Islam to Lampung. Prince Bejalan Di Way. Prince Belunguh. Prince Nyerupa. Prince Pernong

5th century and later. - Umpu Bejalan Diway. - Ratu Tunggal. - Tunggal Simbang Negara. - Ratu Mengkuda Pahawang. - Puyang Rakian.     - Puyang Raja Paksi. - Dalom Sangun Raja. - Raja Junjungan. - Ratu Menjengau. - Pangeran Siralaga. - Dalom Suluh Irung. - Ratoe Nyeroepa.

 - Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen. - Tjerana Adoq Dalom Piekoeloen. - Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen. - Tjerana Adoq Dalom Piekoeloen.

 - Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen II. - Melawan Adoq Pangeran Piekoeloen.

 - Oempoe Beloengoeh. - Oempoe Siak. - Oempoe Depati Djoendjoengan Sakti. - Raja Keraton Batin. - Pangeran Bala Seribu I.

 - Dalom Permata Jagat. - Pangeran Bala Seribu II. - Ratoe Pernong. - Oempoe Semula Jadi. - Oempoe Semula Raja.

 - Raja Selalau Sangoen Guru. - Oempoe Depati Nyalawati. - Ratu Depati Raja Sutan. - Raja Dunia. 

* 15th century, Dipati Alam Padang. - Jukhu. Prins Liang Batu. - Sawangan Hero. - Umpu Sijadi Helau.

 - Si Rasan Adoq Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng. - Melawan Batin Joenjoengan Adoq Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng.

 - Si Rasan Adoq Dalom Poerba Jagat Piekoeloen. - Si Gadjah Adoq Dalom Ratoe Piekoeloen. - Tjerana Adoq Ratoe Piekoeloen.

 - Batin Sasuhunan. - Oempoe Batin Ratu. - Raja Dunia Muda. - Pangeran Singa Diraja

* 16th century, - Sultan Alif Khalifatullah. - Mardjamni Martamin. 

* 18th century, Pangeran Nata Marga. - Pangeran Pulun I. -Si Gadjah Batin Mengunang Adoq Piekoeloen Bala Seriboe.

 - Si Pokok Adoq Dalom Piekoeloen. - Si Gadjah Adoq Batin Piekoeloen. - Merah Hakim Adoq Suntan Ali Akbar. - Pangeran Poerba.

 - Pangeran Alip Jaya. - Pangeran Batin Sekehandak. -  Pangeran Batin Pasirah Purbajaya.

* 19th century, Pangeran Raja di Lampung. - Raden Intan title Pangeran Jaya Kesuma I. - Kasim titel Pangeran Paku Alam.

 - Dalom Raja Kalipah title Pangeran Puspa Negara I. - Pangeran Bala Seribu III. - Pangeran Djaja Di Lampoeng I.

 - Merah Hasan Adoq Suntan Ratoe Piekoeloen. - Merah Hadis Adoq Dalom Baginda Raja. - Pangeran Sempurna Jaya. 

* 20th century, Ahmad Siradj title Pangeran Jaya Kesuma II, - Siti Asma Dewi Gelar Ratu Kemala Jagat. - Pangeran Bala Seriboe IV.

 - Azrim Puspa Negara title Pangeran Jaya Kesuma III. - Selayar Akbar. - Batin Dengian. - Pangeran Djaja Di Lampoeng II.

 - Sutan Makmur Dalom Nata Diraja. - Sutan Lela Muda . - Sultan Sempurna Jaya. - Sutan Raja Selalau Dengian Paksi.

 - Pangeran Ratoe Pikoeloen. - Pangeran Permata Jagat II. - Pangeran Djoendjoengan Sakti I. - Syaifullah Hakim Adoq Suntan Akbarsyah.

 - Salman Marga Alam Adoq Ratoe Piekoeloen Djayadiningrat. - Dwi Tjakrawati Adoq Ratoe Piekoeloen Permata Alam.

* 21th century, Sultan Jayakesum IV Bejalan. - Sultan Yanuar Firman Syah Belunguh. - Sultan Piekulun Jayadininggrat Nyerupa. 

 - Sultan Pangeran Edward Syah Pernong. - Regent Parosil Mabsus


2. Recency of South Lampung.

21th century, - Regent Zainudin Hasan


3. Recency Central Lampung.

21th century, - Regent Mustafa.


4. Recency East Lampung.

21th century, - Regent Chusnunia Chalim.


5. Recency Lampung Utara.

21th century, - Regent Agung Ilmu Mangkunegara.


6. Recency Mesuji.

21th century, - Regent Khamami.


7. Recency Pesawaran.

21th century, - Regent Dendi Ramadhona.


8. Recency Pesisir Barat.

21th century, - Regent Agus Istiqlal.


9. Recency Pringsewu.

21th century, - Regent Sujadi.


10. Recency Tanggamus.

21th century, - Regent Samsul Hadi.


11. Recency Tulang Bawang.

* 7th Century  I.Ching, Buddisht. Kingdom Tolang P’ohwang (to=people, Lang P’ohwang=Lampung) or Tulangbawang in south area (Namphang)

8th Century  Sriwijaya Kingdom.

16th Century, Sultan Maulana Hasannudin (1552-1570)

* 19th Century. Sultan Maulana Muhammed Shafiuddin (1809-1813)

* 21th Century. King Abdurachman Sarbini. - Regent Winarti


12. Recency Tulang Bawang Barat.

21th century, - Regent Umar Ahmad.


13. Recency Way Kanan.

21th century, - Regent Raden Adipati Surya


14. Bandar Lampung City.

21th century, - Burgemeester Herman Hasanusi.


15. Metro City.

21th century, - Burgemeester Pairin.


16. Kedatun Keagungan Lampung

21th Century. Suttan Seghayo Suttan Pesirah Dipuncak Nur Mawardi Harirama.